portalpolrinews.com – Saatnya biarkan guru dan kepala sekolah focus mengurusi bidang keahliannya dalam pendidikan, mendesain, berinovasi dan berkreativitas dalam pembelajaran dan pendidikan.
Jangan dipaksa mengelola yang bukan keahliannya, agar kepala sekolah dan guru tidak lebih sibuk urusi keuangan daripada pendidikannya, dan akhirnya banyak waktu dan pikiran tersita oleh urusan yang bukan tentang pembelajaran.
Belum lagi dana BOS yang masih belum memadai besarannya untuk kebutuhan sekolah yang punya banyak program, kecuali jika sekolahnya dibuat asal berjalan saja, apalagi proses pencairannya yang seperti jalangkung tidak tetap bahkan kadang terlambat hingga kepala sekolah akhirnya harus nyari dana penyambung hayat, akhirnya hanya menimbulkan fitnah dan tuduhan yang menyakitkan.
Di sisi lain juga kadang jadi bahan bancakan dan mendegradasi motivasi dan spirit dedikasi.
Lebih mengerikan lagi jika akhirnya lahirlah motivasi yang Missorientasi bagi mereka yang memilih profesi kepala sekolah karena adanya dana BOS yang dikelola oleh kepala sekolah.
Tak sedikit akhirnya banyak para Kepala Sekolah yang harus berurusan dengan hukum karenanya, belum lagi direpotkan oleh oknum-oknum lembaga lain yang datang aneh-aneh, yang datang bagaikan Themis dalam : mitologi Yunani, namun ujungnya ternyata Kakia.
Bagi kami, saya, cukup kirim guru dan tenaga kependidikan yang jumlah dan kompetensinya sesuai kebutuhan kami, jangan kirim uang pada kami.
Bagi para Kepala Sekolah yang ingin merdeka mengembangkan sekolah, merdeka dan nyaman berinovasi serta berkreativitas, yang sayang jika pikiran dan isi kepalanya harus digunakan untuk hal yang tak ada kaitannya dengan pendidikan, tak akan menolak jika kewenangan pengelolaan BOS diserahkan pada ahlinya.
Jangan jerumuskan kami mengurusi hal yang tak kami kuasai, sehingga terkadang guru dan kepala sekolah dihinakan atau sengaja dihinakan dengan sistem ini, hingga mereka terpaksa dapat gelar kegelapan sebagai maling, garong, koruptor, bangsat dan sejenisnya, yang kata-kata itu kadang dilontarkan oleh orang tua siswa sendiri hingga perlahan-lahan hal ini menghilangkan aura keberkahan ilmu dari lembaga pendidikan yang bernama sekolah.
Apalagi sistem undang-undang pengelolaan keuangan sekolah negeri dan swasta pun ternyata tidak memenuhi keadilan, sementara sekolah-sekolah ini di lapangan seolah-olah dimasukan dalam satu gelanggang pertarungan yang tidak adil, yang satu bertarung dengan rantai yang melilit di kaki dan tangan bahkan lehernya, yng satu bebas tanpa pengekang. Sampai kapan hal mengerikan ini akan dibiarkan ?
Sudah saatnya dana BOS dikelola oleh para sarjana atau magister keuangan, yang ahli dalam urusan keuangan. SAVE KEPALA SEKOLAH DARI URUSAN UANG.
Penulis : Dadan Hermawan
(Kepala sekolah dan pernah jadi
bendahara BOS selama 8 tahun)