Subang portalpolrinews.com – Dulu, di tanah yang bersahaja,Jatiragas Hilir berselimut damai dan cahaya.
Pepohonan berbisik riang bersama burung, Sawah hijau menghampar, senyum warga tak pernah surut.
Tapi kini, langit desa itu berwarna kelabu, Hawa sejuk berubah jadi desahan pilu.
Ada tangan-tangan tersembunyi di balik layar, Menahan hak rakyat, kartu ATM bansos jadi sandera.
Mereka yang lapar bukan karena malas,
Tapi karena keadilan kini terasa bias.
Yang seharusnya membantu, malah mencuri harapan, Membiarkan derita tumbuh di ladang ketidakpedulian.
Karang taruna, jiwa muda penjaga nurani, Melangkah tegas, bertanya demi keadilan hakiki.
Namun suara tulus itu dicap duri,
Provokator, katanya, bukan penyambung hati.
Wahai Jatiragas Hilir, kampung halaman tercinta, Di dadamu tumbuh tekad yang tak bisa dipenjara.
Meski difitnah dan disalahkan oleh mereka yang takut terang, Akan ada hari di mana kebenaran tak lagi dipinjamkan.
Biarlah puisi ini jadi saksi dan suara,
Bahwa kami tidak buta, tidak pula bisu pada luka.
Kami akan tetap mencintaimu dalam perjuangan, Sebab desa ini milik rakyat, bukan segelintir kepentingan.
Sumber : Zie Juragan Padi
Editor : Uta